Cerita di balik pekerjaan ini.
Saya mulai dengan membangun website untuk diri sendiri — sekadar dokumentasi sederhana berbasis WordPress untuk hobi saya, fotografi. Lalu Covid datang. Saat itu saya mengambil dua pekerjaan sekaligus: bekerja penuh waktu di perusahaan travel dan logistik, sambil bertahun-tahun mengikuti kursus dan pelatihan desain, sebelum akhirnya mendapat klien pertama.
Klien itu Jakarta Feminist, sebuah NGO lokal di Jakarta. Awalnya saya hanya dikontrak membangun tiga website mereka, tapi berlanjut menjadi pendampingan jangka panjang selama hampir lima tahun. Satu hal yang saya pelajari: klien tahu apa yang mereka mau, tapi tidak mau fitur yang meragukan. Mereka ingin sederhana, ingin berfungsi, dan ingin masukan dari penggunanya. Itu yang saya kerjakan, dan itu fondasi perjalanan desain saya. Baca studi kasus lengkapnya ↗
Situsnya terlihat sukses. Tapi tidak bekerja.
Saya juga melihat kebanyakan orang fokus pada apa yang terlihat bagus — layout bersih, animasi kekinian, mockup yang pixel-perfect. Klien senang saat presentasi. Tapi tiga bulan setelah peluncuran, saya cek analitik mereka: bounce rate tinggi, konversi rendah, pengunjung kebingungan.
Titik baliknya terjadi saat proyek untuk sebuah NGO ternama di London. Mereka sudah membakar anggaran di dua agensi. Keduanya menghasilkan situs yang indah. Tidak ada satu pun yang bertanya siapa sebenarnya yang berkunjung, kenapa mereka pergi, atau apa yang bisnis butuhkan dari mereka. Saya bangun ulang dengan cara berbeda — dimulai dari kecemasan pelanggan, bukan kebanggaan pendirinya. Menambah friksi di tempat yang perlu, menghapusnya di tempat yang tidak. Konversi naik dua kali lipat dalam enam minggu. Baca studi kasus lengkapnya ↗
Di situ saya sadar: kebanyakan proyek web gagal sebelum baris kode pertama ditulis. Gagal di brief. Di asumsi. Di jarak antara apa yang bisnis kira dibutuhkan dan apa yang benar-benar dialami pelanggan.
Hari ini saya bekerja di persimpangan strategi, desain, dan pengembangan — bukan sebagai tiga tahap terpisah, tapi sebagai satu keputusan yang berkelanjutan. Saya mengajukan pertanyaan yang memperlambat proyek, supaya peluncurannya tidak. Setiap situs yang saya bangun dirancang agar orang yang tepat merasa dipahami dalam 30 detik pertama, lalu mengambil langkah berikutnya tanpa berpikir dua kali.